Selasa, 18 Maret 2014

Bahan Rujukan bagi Perpustakaan

Pengawasan Bibliografi
Keadaan ‘banjir informasi’ mengakibatkan melimpahnya informasi dalam bentuk tercetak maupun tidak tercetak dalam berbagai bidang ilmu pun perpustakaan yang mampu memiliki semua informasi itu, tidak ada satu orang pun yang mampu membaca ada, bahkan bidang sesempit apa pun. Untuk membantu orang dapat mencari dan memilih informasi yang paling sesuai yang dibutuhkan kiranya diperlukan pencatatan yang sistematis namun menyeluruh. Pencatatan ini yang dikenal dengan pengawasan bibliografi, yang tidak dapat dilakukan oleh satu orang, atau satu lembaga atau bahkan satu negara pun. Karena itu tiap negara perlu melakukan pencatatan baik tingkat nasional berupa Pengawasan Bibliografi Nasional. Jika tiap negara melakukan dengan baik, kemudian usaha ini dikoordinasikan secara bersama pada tingkat internasional maka lahirlah apa yang di sebut UBC (Universal Bibliographic Control). Adanya UBC akan bermanfaat banyak bagi umat manusia, khususnya yang perlu mencari dan memilih informasi yang cukup dan yang diperlukan.

Pengawasan Bibliografi Indonesia
Pengawasan bibliografi di Indonesia memang belum berjalan dengan baik. Hal ini karena perangkat atau persyaratan yang diperlukan belum lama dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pada zaman kolonial Belanda memang sudah ada usaha-usaha ke arah kegiatan pengawasan bibliografi, namun belum berjalan dengan lancar karena kondisi yang kurang mendukung. Faktor lain, adalah karena kesadaran para penerbit dan penulis belum merata hingga ini kurang mendukung kelancaran kegiatan ini.
Tahun 1990 merupakan tahun penting dalam kaitan program pengawasan bibliografi di Indonesia, karena pada tahun itulah keluar undang-undang yang paling mutakhir mengenai serah simpan hasil karya penerbitan. Beberapa tahun sebelumnya diresmikan Perpustakaan Nasional RI. Lembaga ini merupakan persyaratan lain demi lancarnya kegiatan pengawasan bibliografi, yaitu sebagai pusat deposit atau penyimpanan dokumen yang berhasil dikumpulkan berdasarkan undang-undang tersebut.

1. Bibliografi Indonesia
Menurut istilahnya ada perbedaan antara Bibliografi Nasional Indonesia dan Bibliografi Indonesiana. Pengertian Bibliografi Indonesiana mencakup bahan rujukan diterbitkan mengenai Indonesia, baik yang diterbitkan di Indonesia maupun di luar negeri.
Sudah banyak publikasi diterbitkan yqang dapat digolongkan ke dalam bibliografi Indonesiana. Mulai dari zaman kolonial Belanda hingga kita merdeka sampai sekarang ini. Makin lama makin banyak publikasi yang diterbitkan. Pada awalnya kebanyakan terbitan kita belum sempurna dalam cara penyusunan entri dan sarana temu-baliknya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah cara pengindeksannya. Tetapi setelah banyak bibliografi Indonesiana diterbitkan di luar negeri, khususnya di Negeri Belanda, dengan teknik penyajian yang cukup baik, maka dewasa ini terbitan kita pun semakin baik, termasuk bibliografi yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional.

2. Bibliografi Nasional Indonesia
Bibliografi Nasional Indonesia adalah daftar yang memuat judul-judul publikasi yang diterbitkan di Indonesia yang mengenai Indonesia. Sejak Indonesia merdeka semakin banyak diterbitkan bibliografi, bukan saja oleh Perpustakaan Nasional RI yang memang antara lain tugasnya menangani secara langsung pengawasan bibliografi nasional, tetapi juga oleh perpustakaan lain atau lembaga yang bergerak dalam bidang tertentu. Lembaga ini biasanya menerbitkan bibliografi subjek khusus sesuai dengan bidang gerak lembaga itu. Bahkan perorangan pun sudah banyak yang berani menyusun bibliografi, baik untuk tujuan komersial maupun untuk tujuan lain. Untuk mengumpulkan angka ke kredit bagi pustakawan fungsional misalnya.
Bibliografi pun tampil semakin beragam, baik dari segi fisik penampilan, kelengkapan informasi dan istilah atau nama yang digunakan. Perubahan ini tentunya sesuai dengan perkembangan atau kemajuan kebutuhan manusia akan informasi.

3. Indeks
Indeks diperlukan untuk mengetahui terbitan apa saja yang sudah ada. Perlunya indeks semakin terasa karena dewasa ini ada fenomena yang disebut sebagai ledakan informasi. Maksudnya adalah begitu banyak informasi literatur dihasilkan, sehingga tidak seorang pun yang dapat membaca semua terbitan, bahkan dalam bidang yang sempit sekalipun. Untuk itu diperlukan sarana pemilihan literatur. Agar orang dapat mengetahui terbitan dalam bidang tertentu, untuk kemudian menentukan literatur apa yang perlu dibaca dari sekian banyak literatur dan dimana didapatkan bahan rujukan indeks memberi petunjuk untuk itu. Ada dua jenis indeks. Ada yang terbit sebagai satu kesatuan berupa monograf. Ada pula yang berupa majalah indeks.

4. Abstrak
Dalam banyak hal abstrak sama dengan indeks. Jadi keduanya dapat berbentuk monograf ataupun majalah. Maka pada keduanya dikenal majalah abstrak dan indeks, atau yang berbentuk monograf. Di Indonesia terdapat beberapa masalah yang menghambat perkembangan penerbitan abstrak, khususnya majalah abstrak. Masalah ini adalah kelangkaan orang yang sekaligus menguasai teknik mengabstrak dan memahami subjek yang mau dibuat abstraknya. Masalah lain tentu dana untuk penerbitan. Selain itu memang kurang tersedia literatur dalam bahasa Indonesia yang mau dibuat abstraknya secara berkesinambungan

5. Kamus Umum Indonesia
Sejarah perkembangan kamus di Indonesia dimulai dengan masuknya Belanda ke Indonesia. Kebanyakan penyusun kamus adalah orang-orang Belanda. Pada mulanya tujuannya adalah agar mereka mudah berkomunikasi dengan penduduk pribumi. Hampir semua bahasa daerah di Nusantara dibuat kamus dua bahasanya dengan bahasa Belanda. Baru pada awal abad ke-20 putra Indonesia asli berhasil menyusun kamus Indonesia. Selanjutnya, perkembangan kamus berbahasa Nusantara mulai semarak. Terutama oleh penyusun-penyusun kamus yang terkenal seperti Poerwadarminta, Sutan Mohammad Zain, R. Satjadibrata, E. St. Harahap, Hasan Shadily, J.S. Badudu, dan sebagainya.

6. Jenis dan Contoh Kamus Indonesia
Sejarah perkembangan kanus umum dan kamus bahasa di Indonesia tidak berbeda dengan perkembangan kamus pada umumnya. Perbedaan pembahasan disini dilakukan hanya untuk memberi ruang yang cukup bagi uraian sejarah bagi kamus. Kamus umum dan kamus bahasa sesungguhnya sama saja. Perbedaannya di sini hanya diberikan pada penekanan perhatiannya saja. Kalau kamus umum berarti penekanan pada informasi dalam entri kamus itu. Sedangkan pada kamus bahasa yang kita perhatikan adalah bahasa dari kamus itu. Dalam hal ini akan bahas dalam bahasa apa kamus disajikan. Dengan kata lain, jenis kamusnya adalah jenis kamus alih bahasa. Karena menguraikan makna kata dari satu bahasa ke satu atau beberapa bahasa yang lain.

7. Ensiklopedi Indonesia
Ensiklopedi umum dan ensiklopedi khusus/subjek belum mempunyai sejarah yang lama di Indonesia. Meskipun bahan rujukan bentuk kamus, yang merupakan bahan rujukan yang tidak dapat dipisahkan dengan ensiklopedi, sudah lama terbit di Indonesia. Pada peralihan abad ke-19 ke abad ke-20, baru terbit suatu buku yang dapat dikategorikan sebagai ensiklopedi. Ensiklopedi nasional perlu diterbitkan oleh setiap negara. Hal ini karena perlunya masyarakat suatu bangsa membaca dan memperoleh informasi yang penting dan mendasar tentang berbagai hal, sesuai dengan ideologi dan sudut pandang negara itu. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan, serta karena makin meningkatnya kebutuhan orang akan informasi, maka banyak terbit ensiklopedi dalam bentukan yang semakin menarik.

8. Grey Literatur dan Terbitan Pemerintah
Ada dua jenis rujukan yang sering orang lupakan dalam menjawab pertanyaan rujukan, yaitu jenis grey literature dan terbitan pemerintah. Mengapa hal ini sering terjadi ? Karena memang kedua jenis terbitan ini tidak mudah didapatkan secara bebas. Perpustakaan harus punya hubungan tertentu dengan produsen bahan pustaka tersebut untuk dapat memiliki jenis bahan ini. Memang ada jenis terbitan pemerintah yang dapat dijual di pasaran yaitu yang sudah diterbitkan ulang oleh pihak swasta. Tetapi jumlahnya tidak banyak. Hanya judul-judul tertentu saja. Sedangkan untuk jenis grey literature lebih sulit lagi, karena sering hanya terbit dalam jumlah yang sangat terbatas. Bahkan ada yang hanya dicetak beberapa eksemplar. Padahal isinya sering sangat penting. Bahkan adakalanya informasi yang dimuat tidak bisa didapatkan dalam terbitan lainnya.

Banyak lembaga di Indonesia yang menerbitkan dokumen. Sebenarnya ada Departemen Penerangan Republik Indonesia yang mempunyai tugas memberi informasi tentang kegiatan pemerintah. Salah satunya dalam bentuk penerbitan. Terbitan departemen ini jelas merupakan terbitan pemerintah. Bagian HUMAS dari setiap departemen pun banyak menerbitkan dokumen mengenai departemen mereka. Selain itu ada lembaga atau instansi khusus yang bergerak dalam bidang tertentu yang juga menerbitkan dokumen. Semua terbitan mereka tergolong terbitan pemerintah. Sayang sekali pencatatan mengenai jenis ini sangat minim, sehingga dapat dikatakan bahwa pengawasan bibliografi terbitan ini di Indonesia tidak sebaik jenis terbitan lain.

Pembuatan bibliografi untuk jenis terbitan pemerintah selain dilakukan oleh Perpustakaan Nasional juga dilakukan oleh Departemen Penerangan dan Kantor Sekretariat Negara. Daftar yang mereka keluarkan merupakan sarana pengawasan bibliografi untuk jenis terbitan ini.

9. Bahan Rujukan Indonesia Lain
Naskah dokumen kuno mengenai Indonesia sebenarnya cukup banyak. Di antaranya tersimpan dengan baik dan rapih di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta. Kebanyakan naskah itu diterbitkan di Negeri Belanda. Bahkan ditulis oleh orang Belanda. Namun sudah adapula beberapa yang disusun oleh orang pribumi, jadi oleh putera Indonesia. Bentuk naskah itu memang sangat beragam. Terbitan ini merupakan bukti sejarah bahwa sejak dahulu sudah ada usaha menyimpan dan menyebarkan informasi mengenai Indonesia. Usaha ini makin berkembang sejak Indonesia merdeka, sehingga semakin banyak dan beragam bentuk terbitan, termasuk terbitan yang dapat dikelompokkan sebagai bahan rujukan berupa buku petunjuk dan buku pedoman.

Di Indonesia banyak terdapat organisasi, lembaga maupun institusi, baik milik pemerintah ataupun milik swasta atau masyarakat, yang pada setiap akhir tahun atau awal tahun berikut, menerbitkan suatu buku yang disebut laporan tahunan. Biasanya laporan seperti itu memuat berbagai aktivitas kegiatan lembaga serta hasil-hasilnya. Selain itu dalam buku tahuan di muat pula latar belakang organisasi, di mana letak kantor pusat dan kantor cabangnya, siapa pejabat-pejabatnya, bergerak dalam bidang apa lembaga itu; melakukan kerja sama dengan siapa, dan lain-lain informasi yang kiranya berkaitan dengan lembaga itu, termasuk angka-angka statistik. Maksud penerbitan buku seperti itu selain sebagai sarana publikasi dan promosi untuk menunjukkan apa yang telah dicapai lembaga itu. Buku seperti ini sangat bermanfaat bagi pengguna yang mencari informasi mengenai suatu lembaga atau suatu masalah.

Selain itu dikenal bahan rujukan berupa direktori. Kandungan buku jenis ini hampir sama dengan laporan tahunan lembaga, namun penekannya pada informasi penunjukan alamat.

Sumber Buku Bahan Rujukan Indonesia Karya Mastini Hardjoprakoso http://massofa.wordpress.com/2008/01/18/bahan-rujukan-bagi-perpustakaan/

0 komentar:

Posting Komentar